NDP HMI – BAB I: Dasar-Dasar Kepercayaan

18
Jul 2025
Kategori : Materi Wajib
Penerbit: Admin Infokom
Dilihat :2142x

NDP HMI atau Nilai Dasar Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam, merupakan nilai yang menjadi pegangan siapapun yang bergabung menjadi anggota dan kader HMI. Pada NDP HMI – BAB I, dijelaskan tentang Dasar-Dasar Kepercayaan. Dasar-dasar ini menjadi pegangan anggota dan kader HMI dalam meletakkan kepercayaannya kepada satu-satunya Dzat yang tidak ada pengecualiannya.

Setiap manusia pada dasarnya memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan ini bukan sekadar kebutuhan emosional atau sosial, melainkan menjadi dasar utama bagi lahirnya nilai-nilai yang menopang kehidupan budaya dan peradaban. Tidak mungkin seseorang hidup dalam kondisi sepenuhnya ragu atau nihil dari keyakinan. Namun, tidak semua kepercayaan layak dianut; sebuah kepercayaan yang benar harus didasarkan pada kebenaran hakiki, dan cara mengimaninya pun harus sesuai dengan petunjuk yang benar.

Dalam kenyataannya, masyarakat memiliki beragam bentuk kepercayaan. Karena ragam ini, logis jika kita menyimpulkan: tidak semuanya benar. Bisa jadi hanya satu yang benar, atau masing-masing mengandung sebagian kebenaran dan sebagian kesalahan. Walaupun begitu, kepercayaan memiliki kekuatan membentuk nilai dan tradisi yang hidup dalam masyarakat, bahkan diwariskan secara turun-temurun.

Namun, tradisi yang terbentuk dari nilai kepercayaan itu tidak selamanya membawa kemajuan. Sering kali, tradisi justru membatasi ruang gerak manusia untuk berkembang. Maka di sinilah terjadi paradoks: manusia membutuhkan kepercayaan sebagai fondasi nilai untuk membangun peradaban, tapi ketika nilai itu membeku dalam bentuk tradisi yang kaku, ia bisa menjadi penghambat kemajuan.

Dalam rangka membangun peradaban yang sejati, manusia harus berani meninggalkan bentuk kepercayaan yang hanya bersandar pada warisan tanpa landasan kebenaran. Kebenaran sejati harus menjadi satu-satunya sumber nilai. Dalam Islam, kebenaran mutlak adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Allah SWT adalah asal dan tujuan dari segala sesuatu.

Syahadat – Dasar Kepercayaan dalam NDP HMI – BAB I

Syahadat pertama dalam Islam, “Lā ilāha illā Allāh”, menyatakan tidak ada Tuhan selain Allah. Kalimat ini bukan hanya deklarasi iman, tetapi juga membebaskan manusia dari seluruh bentuk keyakinan palsu. Bagian pertama dari kalimat ini, yaitu penolakan terhadap segala tuhan selain Allah SWT, berarti pemutusan dari kepercayaan yang tidak benar. Sementara bagian kedua, yaitu pengakuan terhadap Allah SWT, menunjukkan penerimaan terhadap kebenaran sebagai satu-satunya sumber nilai.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Dan tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiya: 25)

Pengetahuan manusia tentang Tuhan bisa manusia raih melalui berbagai pendekatan—akal, intuisi, sejarah, bahkan pengalaman spiritual. Namun, karena keterbatasan manusia, pemahaman tentang hakikat Tuhan tidak dapat tercapai secara sempurna tanpa petunjuk dari-Nya. Oleh karena itu, wahyu menjadi kebutuhan esensial dalam keimanan. Wahyu ini hanya Allah SWT turunkan kepada orang-orang pilihan, yakni para nabi dan rasul, yang bertugas menyampaikannya kepada seluruh umat manusia.

Wahyu terakhir adalah Al-Qur’an, yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agama bagimu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)

Untuk memahami ajaran Ketuhanan yang benar, manusia harus percaya pada kenabian Muhammad ﷺ dan berpegang teguh pada Al-Qur’an. Kalimat syahadat kedua “Muhammadur Rasūlullāh” menegaskan bahwa keimanan tidak cukup hanya kepada Allah SWT, tetapi juga harus beriringan dengan penerimaan terhadap utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW.

Ke-ESA-an Allah SWT

Tentang Ke-Esa-an Allah SWT, telah jelas diterangkan sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
(QS. Al-Ikhlas: 1–4)

Tuhan tidak terbatas oleh ruang atau waktu. Dia adalah awal dan akhir dari segala sesuatu.

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Hadid: 3)

Alam semesta adalah ciptaan Allah SWT, dan penciptaannya dengan tujuan dan hukum yang pasti:

“Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutup malam dengan siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (Dia ciptakan pula) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-A’raf: 54)

Manusia adalah ciptaan tertinggi yang Allah SWT beri kehormatan sebagai khalifah di bumi:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas banyak makhluk yang telah Kami ciptakan.”
(QS. Al-Isra: 70)

Namun, karena memiliki kehendak bebas, manusia bisa menolak hukum Tuhan, berbeda dengan alam yang secara otomatis tunduk pada sunnatullah. Sejarah manusia terbentuk oleh pilihan-pilihannya, dan dalam sejarah itu, manusia harus senantiasa berpihak pada kebenaran.

“Sesungguhnya Kami telah tawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikulnya dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Tetapi manusia menerimanya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
(QS. Al-Ahzab: 72)

Karena itu, manusia tidak boleh hanya mengikuti nilai-nilai tradisional tanpa dasar kebenaran yang jelas.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra: 36)

Islam mendorong hidup yang berlandaskan iman dan ilmu.

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Akhir dari sejarah kehidupan manusia di dunia ini adalah hari kiamat, hari pertanggungjawaban yang mutlak:

“Hari di mana manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-Muthaffifin: 6)

“…Dan tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin dari-Nya…”
(QS. Al-Baqarah: 255)

Hari Kiamat atau Yaum al-Din (hari agama), adalah di mana semua makhluk menyadari bahwa Allah SWT merupakan satu-satunya Raja dan Pemilik, dan tidak ada lagi sistem sosial, kebebasan, atau sejarah, melainkan hanya pertanggungjawaban setiap individu atas amalnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan komentar