“Dari Janji 5% ke Target 6,65%, Apakah Bupati Tanjab Barat Mulai Kehilangan Arah atau Nyali?”

Ada kabar menarik terkait Kabupaten Tanjab Barat yang berhasil meraih penghargaan sebagai peringkat kedua se-Provinsi Jambi dalam penurunan angka stunting.
Sekilas, kabar itu terlihat sebuah pencapaian dari hasil kerja keras yang luar biasa.
Tapi, ada sisi lain yang nampaknya tertutup dari ruang publik terkait “janji yang belum tercapai” dan “tekad yang melemah” dari Bupati dalam menurunkan angka stunting di Tanjab Barat.
Ditengah kualitas SDM kita masih tergolong lemah se-Provinsi Jambi, Bupati Tanjab Barat pernah punya target super optimis, yaitu menurunkan angka stunting hingga 5% di tahun 2024. Itu diucapkan oleh Bupati pada tahun 2023 saat stunting masih diangka 14,1%.
Faktanya, berdasarkan data yang dilansir dari laman resmi tanjabbarkab.go.id, angka stunting di tahun 2024 baru turun hingga 7%, yang berarti target 5% belum tercapai saat itu.
Ironisnya, setelah kegagalan mencapai target tersebut, Bupati tampak belum menunjukkan ambisi kuat untuk melakukan percepatan penurunan stunting secara signifikan.
Alih-alih memperketat strategi dan memperkuat sinergi lintas sektor, malah target yang dicanangkan dalam RPJMD 2025–2029 justru hanya menurunkan angka stunting menjadi 6,65% pada tahun 2025, sebagaimana dilansir jambilink.id.
Target itu terkesan berbanding terbalik dengan kepedean Bupati tahun 2023-2024 yaitu setahun berani menargetkan angka 5%, meskipun tidak tercapai.
Tapi tahun 2024-2025, Bupati jadi melemah karena hanya berani berjanji menurunkan dari 7 ke 6,65%.
Mungkin bolehlah kita katakan, bahwa Bupati kurang mencerminkan semangat yang berani atas tanggung jawab moral terhadap masa depan generasi Tanjab Barat.
Dengan capaian yang belum sesuai harapan dan target penurunan yang tampak melambat, Bupati selaku Pemimpin Tertinggi di daerah perlu melakukan introspeksi mendalam.
Penurunan stunting bukan sekadar persoalan angka di atas kertas, melainkan menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Maka, penghargaan tidak boleh dijadikan selimut keberhasilan semu, sementara akar persoalan di lapangan belum benar-benar terselesaikan.
M.Rafi: (Ketua Umum HMI Tanjung Jabung Barat)






Tinggalkan komentar