“Gagal Satu Periode, Masih berani Membantah Masyarakat ? ”

8
Sep 2025
Kategori : Opini
Penerbit: Admin Infokom
Dilihat :281x

Dalam teori pembangunan, para ahli kerap menekankan bahwa pembangunan bukan sekadar fisik, melainkan juga harus berorientasi pada kebutuhan, rasa aman, dan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.

Amartya Sen dalam konsep Development as Freedom menegaskan bahwa pembangunan hakikatnya adalah memperluas kebebasan dan keamanan masyarakat, bukan justru menambah potensi keresahan baru.

Namun, realitas di lapangan kerap berbanding terbalik,Pembangunan proyek di pinggir Sungai Parit 2 Kuala Tungkal justru menimbulkan gelombang kekhawatiran dari masyarakat.

Bukan tanpa alasan, masyarakat melihat bahwa proyek ini berpotensi menjadi jalan lapang bagi maling untuk beraksi.

Alih-alih memberikan jaminan keamanan atau solusi konkret atas kekhawatiran tersebut, Bupati malah menepis keresahan warga dengan sederet alasan tentang mengapa proyek itu harus dibangun.

Pertanyaannya sederhana: di mana posisi suara rakyat dalam proses pembangunan?Apakah pembangunan ini murni aspirasi masyarakat, atau sekadar representasi dari “pendapat satu orang” yang kemudian dipaksakan seolah-olah itu kehendak mayoritas?

Kekhawatiran masyarakat dianggap sepele, kalah penting dibanding narasi penataan kota, keindahan estetika, atau retorika tentang sampah dan saluran parit.

Padahal, rakyat jelas meminta garansi: jika benar proyek ini memudahkan maling, apa langkah kongkrit pemerintah untuk menjamin keamanan mereka?

Pembangunan yang sehat mestinya berangkat dari kebutuhan rakyat, bukan dari ambisi elit.

Lebih baik Bupati membuka ruang musyawarah dan mendengarkan usulan warga ketimbang sibuk membantah,Sebab membantah keresahan masyarakat sama saja meremehkan suara rakyat yang sejatinya adalah pemegang kedaulatan.

Lebih jauh, Bupati juga sebaiknya jangan hanya menjual narasi pembangunan kota yang indah dipandang mata, tetapi kosong dari substansi.

Faktanya, hingga hari ini, angka kemiskinan Tanjung Jabung Barat masih menduduki posisi kedua tertinggi di Provinsi Jambi.

Apa langkah konkret untuk menurunkannya? Bagaimana strategi serius meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan? Di mana solusi nyata untuk stunting yang masih menghantui generasi muda kita?

Satu periode RPJMD yang sudah berjalan belum menunjukkan perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat.

Jika pembangunan hanya sebatas memoles keindahan semu tanpa menyentuh akar masalah,kemiskinan, pengangguran, pendidikan, dan kesehatan,maka ia tidak lebih dari sekadar “make up” untuk menutupi wajah kegagalan.

Berhentilah memoles kegagalan dengan proyek kosmetik. Masyarakat Tanjung Jabung Barat sedang tumbuh menjadi lebih kritis dan cerdas.

Mereka tidak bisa lagi dibuai oleh narasi penataan kota yang indah, sementara dapur rumah tangga masih sulit berasap.

Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang menyentuh kebutuhan mendasar, menghapus keresahan, dan menjawab tantangan hidup rakyat, bukan sekadar memuaskan ego sang penguasa.

Tidak ada komentar

Tinggalkan komentar