“Mengapa Banyak Kader Aktif Tetapi Tidak Berkembang?”

Dalam setiap organisasi, kualitas kader sebenarnya sangat ditentukan oleh apa yang ia jadikan sebagai pegangan dalam berproses. Jika seluruh kader benar-benar menjadikan tujuan organisasi sebagai kompas perjuangan, maka dapat dipastikan kualitas kader yang ideal akan lebih mudah tercapai.
Di dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), misalnya, kita mengenal konsep lima kualitas insan cita sebagai gambaran kualitas ideal yang hendak diwujudkan dalam diri setiap kader.
Konsep ini bukan sekadar teori atau jargon organisasi. Ia merupakan arah pembentukan karakter, intelektualitas, spiritualitas, serta tanggung jawab sosial kader.
Namun pertanyaannya, apakah kualitas tersebut tidak dapat dicapai? Atau sebenarnya ada kader yang telah mencapainya?
Jika kita jujur melihat realitas di lapangan, persoalan utamanya sering kali bukan pada konsep yang terlalu tinggi. Persoalan justru terletak pada cara kader memaknai proses berorganisasi itu sendiri. Banyak kader yang secara tidak sadar keliru dalam menentukan target selama berproses di organisasi.
Dalam organisasi sebenarnya ada dua hal yang perlu dipahami secara berbeda, yaitu tujuan organisasi dan tujuan kegiatan.Ketika seorang kader menjadikan tujuan organisasi sebagai pegangan, maka ia akan mulai merefleksikan dirinya: apa potensi yang ia miliki, apa yang perlu ia pelajari, serta bagaimana ia dapat mengembangkan kapasitas dirinya agar sejalan dengan tujuan besar organisasi.
Dari sini lahir kesadaran untuk membaca lebih banyak, berdiskusi lebih dalam, memperluas wawasan, serta mengasah kemampuan kepemimpinan dan kepekaan sosial. Proses ini tidak hanya membentuk kualitas individu, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan organisasi.
Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak kader yang tanpa sadar hanya berpegang pada tujuan kegiatan.
Akibatnya, ukuran keterlibatan dalam organisasi menjadi sangat sederhana: cukup hadir, cukup mengikuti kegiatan, dan cukup terlihat di forum.Padahal, kehadiran dalam kegiatan tidak otomatis berarti kontribusi.
Jika pola pikir ini terus berlangsung, maka organisasi hanya akan dipenuhi oleh kader yang sekadar hadir secara fisik tetapi tidak mengalami perkembangan kapasitas diri.
Forum-forum organisasi menjadi ramai, tetapi tidak melahirkan gagasan besar ataupun kualitas kader yang kuat.Inilah sebabnya mengapa dalam banyak organisasi kita sering menemukan fenomena kader yang terlihat aktif, namun tidak menunjukkan perkembangan potensi yang berarti.
Bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan, tetapi bisa jadi karena mereka salah memegang target dalam berorganisasi.
Ketika target yang dipegang hanyalah kegiatan, maka organisasi hanya menjadi ruang berkumpul.
Tetapi ketika target yang dipegang adalah tujuan organisasi, maka organisasi akan menjadi ruang pembentukan diri.
Ironisnya, tidak jarang pula muncul fenomena lain yang lebih memprihatinkan. Sebagian kader justru merasa lebih besar dari organisasinya sendiri.
Loyalitas mereka sering kali lebih kuat kepada kelompok pergaulan di dalam organisasi dibandingkan kepada nilai dan tujuan organisasi itu sendiri.
Akibatnya, kehilangan kelompok terasa lebih menakutkan daripada kehilangan arah perjuangan organisasi.
Padahal, organisasi seharusnya menjadi tempat menempa diri, bukan sekadar tempat berkerumun.
Karena itu, penting bagi setiap kader untuk kembali bertanya pada dirinya sendiri: apa sebenarnya target yang sedang ia pegang dalam berorganisasi?
Jika yang dipegang adalah tujuan organisasi, maka proses yang dijalani akan membentuk kualitas diri yang kuat. Namun jika yang dipegang hanya kegiatan, maka organisasi hanya akan menjadi rutinitas tanpa arah.
Pada akhirnya, kualitas kader tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering ia hadir dalam kegiatan, tetapi oleh seberapa jauh ia menjadikan tujuan organisasi sebagai kompas dalam setiap langkah perjuangannya.





Tinggalkan komentar