“Mungkin Ada Gizi di Roti Near Expired”

Ada yang lebih bikin sesak dari sekadar roti hampir kedaluwarsa: yaitu logika yang ikut basi di dalamnya.
Sebagai Ketua HMI, saya ingin menyampaikan sikap yang santai tapi serius. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini niatnya mulia. Kita semua sepakat, anak-anak kita butuh asupan yang baik, bukan hanya untuk tumbuh tinggi, tapi untuk tumbuh cerdas. Tapi ketika yang sampai ke tangan siswa justru roti near expired, produk tanpa label jelas, bahkan telur busuk, kita patut bertanya: ini program gizi, atau uji nyali?
Mungkin benar, ada gizi di roti hampir kedaluwarsa. Tapi ada juga risiko. Dan yang paling berbahaya bukan cuma bakteri,melainkan kebiasaan menganggap remeh standar.
Kita tidak sedang membahas makanan sisa di warung sore hari. Ini program resmi. Ada sistem, ada anggaran, ada pengawasan. Kalau distribusinya karut marut, berarti ada mata yang kurang awas dan ada hati yang kurang peka. Anak-anak bukan tempat uji coba manajemen logistik.
Kami mengapresiasi permohonan maaf yang sudah disampaikan. Itu langkah awal yang baik. Tapi publik tidak cukup diberi maaf,tapi publik butuh jaminan. Butuh perbaikan konkret. Butuh transparansi. Jangan sampai “gratis” jadi alasan untuk “asal jadi”.Kita ingin generasi emas, bukan generasi yang harus cek tanggal kedaluwarsa dulu sebelum belajar matematika.
HMI berdiri di posisi yang jelas: mendukung program yang berpihak pada rakyat, tapi juga mengkritik tegas ketika kualitas dipertaruhkan. Karena membangun masa depan bangsa tidak bisa setengah matang,apalagi hampir kedaluwarsa.
Mari kita jaga niat baik ini dengan kerja yang lebih baik. Karena kalau urusan perut anak-anak saja kita lalai, bagaimana kita mau bicara soal masa depan negeri?






Tinggalkan komentar