“Rp52.393.000 per Tahun dari WFC, Tak Cukupkah untuk Menghidupkan Tukang Becak?”

25
Feb 2026
Kategori : Article / Opini
Penerbit: Admin Infokom
Dilihat :92x

Belakangan ini kita mendengar keluhan tukang becak di Kuala Tungkal.Sebagian orang mungkin menganggap ini hal biasa. Tapi kalau kita mau jujur, ini adalah jeritan kecil yang lama-lama bisa hilang kalau tidak kita dengar.

Sebagai Ketua HMI Tanjab Barat, saya, M. Rafi, melihat ini bukan sekadar persoalan penghasilan. Ini tentang kehidupan. Tentang seorang ayah yang setiap hari mengayuh becak dengan harapan sederhana: bisa pulang membawa uang belanja, bisa membayar sekolah anaknya, bisa menjaga dapur tetap mengepul.

Hari ini mereka lebih sering menjadi sasaran sedekah dan bansos. Kita bantu saat ada program. Kita foto, kita salurkan, selesai. Tapi setelah itu, mereka kembali menunggu penumpang yang belum tentu datang.Padahal mereka tidak ingin terus dikasihani.Mereka ingin diberi kesempatan.

Kita punya Waterfront City (WFC) Kuala Tungkal. Kawasan yang hidup, ramai, menjadi kebanggaan daerah. Dari aset itu, pemerintah mendapatkan retribusi sekitar Rp 52.393.000 per tahun. Artinya kawasan ini memang menghasilkan. Ada perputaran ekonomi di sana. Ada uang yang masuk setiap tahunnya.

Pertanyaannya sederhana:Kalau kawasan itu bisa memberi pendapatan bagi daerah, apakah tidak mungkin ia juga bisa menjadi sumber rezeki bagi tukang becak?Mengapa tidak dibuatkan titik resmi bagi mereka di WFC? Mengapa tidak dijadikan becak sebagai bagian dari pengalaman wisata? Orang datang sore hari, menikmati pemandangan, lalu bisa berkeliling dengan becak. Bukankah itu bisa menjadi daya tarik tersendiri?

Di Malioboro, Yogyakarta, becak bukan dianggap beban. Ia justru menjadi identitas dan sumber ekonomi rakyat kecil. Kuala Tungkal pun bisa seperti itu, kalau ada keberpihakan.Jangan sampai WFC berdiri megah, lampu-lampunya terang, pendapatan retribusinya jelas, tapi tukang becak hanya menjadi penonton. Mereka ada di kota ini, mereka bagian dari sejarah kota ini, tapi tidak diberi ruang dalam pembangunan kota ini.

Pembangunan sejati bukan hanya soal angka pendapatan daerah.Pembangunan adalah tentang siapa yang ikut merasakan manfaatnya.Kalau ada Rp 52 juta lebih yang masuk setiap tahun dari satu kawasan, masa tidak ada ruang kecil untuk beberapa becak mencari nafkah dengan terhormat?Ini bukan soal menyalahkan. Ini soal hati dan keberpihakan.

Apakah kita mau membangun kota yang indah di atas kesulitan rakyat kecil, atau membangun kota yang indah bersama mereka?Tukang becak tidak meminta banyak.Mereka hanya ingin satu hal: kesempatan untuk bekerja dan hidup dengan layak.

Tidak ada komentar

Tinggalkan komentar