“Strategi Perkaderan HMI Sesuai Dengan Perkembangan Zaman”

14
Jun 2025
Kategori : Opini
Penerbit: Admin Infokom
Dilihat :473x

Oleh : Raudatul Jannah
[Ketua Umum Kohati HMI cabang Tanjung Jabung Barat periode 2025–2026]
Asal Cabang : Tanjung Jabung Barat

Sesungguhnya Allah telah mewahyukan Islam sebagai ajaran yang hak dan sempurna untuk mengatur kehidupan umat manusia sesuai dengan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia dituntut memanifestasikan nilai-nilai ilahiyah di bumi dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata kepada-Nya, sehingga melahirkan spirit tauhid sebagai persaksian (syahadah) untuk melakukan pembebasan (liberation) dari belenggu-belenggu selain Allah.

Dalam konteks ini, seluruh penindasan atas kemanusiaan adalah thagut yang harus dilawan. Inilah yang menjadi subtansi dari pesaksian primordial manusia yang termaktub dalam syahadatain.

Dalam melaksanakan peran sebagai khalifah, manusia harus berikhtiar melakukan perubahan sesuai dengan misi yang diemban oleh para Nabi, yaitu menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ’alamin). Rahmat bagi seluruh alam menurut Islam adalah terbentuknya masyarakat yang menjunjung tinggi semangat persaudaraan universal (universal brotherhood), egaliter, demokratis, berkeadilan sosial (social justice), berakhlakul karimah, istiqomah melakukan perjuangan untuk membebaskan kaum tertindas (mustadh’afin), serta mampu mengelola dan menjaga keseimbangan alam.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi kader diharapkan mampu menjadi alat perjuangan dalam mentransformasikan gagasan dan aksi terhadap rumusan cita yang ingin dibangun, yakni terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

HMI sebagai organisasi kader memiliki platform yang jelas dalam menyusun agenda dengan mendekatkan diri kepada realitas masyarakat dan secara konsisten membangun proses dialetika secara obyektif dalam pencapaian tujuannya. Daya sorot HMI terhadap persoalan akan tergambar pada penyikapan kader yang memiliki keberpihakan terhadap kaum tertindas (mustadha’afin) dan memperjuangkan kepentingan mereka serta membekalinya dengan ideologi yang kuat untuk melawan kaum penindas (mustakbirin).

Untuk dapat mewujudkan cita-cita revolusi di atas, maka seyogyanya perkaderan harus diorientasikan kepada proses rekayasa pembentukan kader yang memiliki karakter, nilai dan kemampuan untuk melakukan transformasi kepribadian dan kepemimpinan seorang muslim yang utuh (kaffah), sikap dan wawasan intelektual yang melahirkan kritisisme, serta orientasi kepada kemandirian dan profesionalisme.

Oleh karena itu, untuk menguatkan dan memberikan nilai optimal bagi pengkaderan HMI, maka ada tiga hal yang harus diberi perhatian serius.

Pertama, rekruitmen calon kader. Dalam hal ini, HMI harus menentukan prioritas rekruitmen calon kader dari mahasiswa pilihan, yakni input kader yang memiliki integritas pribadi, bersedia melakukan peningkatan dan pengembangan diri secara berkelanjutan, memiliki orientasi kepada prestasi yang tinggi dan potensi leadership, serta memiliki komitmen untuk aktif dalam memajukan organisasi.

Kedua, proses perkaderan yang dilakukan sangat ditentukan oleh kualitas pengurus sebagai penanggung jawab perkaderan, pengelola latihan, pedoman perkaderan dan bahan yang dikomunikasikan serta fasilitas yang digunakan.

Ketiga, iklim dan suasana yang dibangun harus kondusif untuk perkembangan kualitas kader, yakni iklim yang menghargai prestasi individu, mendorong semangat belajar dan bekerja keras, menciptakan ruang dialog dan interaksi individu secara demokratis dan terbuka untuk membangun sikap kritis yang melahirkan pandangan futuristik serta menciptakan media untuk merangsang kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Untuk memberikan panduan (guidance) yang dipedomani dalam setiap proses perkaderan HMI, maka dipandang perlu untuk menyusun pedoman perkaderan yang menjadi strategi besar (grand strategy) perjuangan HMI sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan dalam menjawab tantangan zaman.

Dunia telah menunjukkan wajah perubahannya, wajah dunia masa kini sangat jauh berbeda saat HMI lahir. Begitupun dengan tantangan kader era Revolusi Industri 5.0 saat ini dan dulu jauh berbeda. Mampukah HMI berperan? Bagaimana HMI menjalankan peran itu? Di mana muara HMI nantinya?

Pertanyaan seperti itu akan terus bertambah seiring dengan munculnya keraguan dan harapan bangsa terhadap kader HMI. Harus diakui, manusia saat ini begitu akrab dan semakin mahir dengan teknologi, sebagaimana tuntutan global dalam revolusi industri 5.0-nya yang berbasis pada teknologi dan data. Suatu negara dapat dinobatkan sebagai negara maju apabila kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologinya mendukung agar bisa berpacu dan memiliki daya saing dengan negara lainnya.

Selain metode peningkatan dan perbaikan di aspek perkaderan, kader HMI masa kini juga harus memiliki jiwa enterpreneur dan kewirausahaan, sehingga kader HMI dapat berkontribusi pada kemajuan bangsa dan kesejahteraan umat manusia ketika menjadi pengusaha dan pelaku industri muslim.

Atas dasar itu, HMI wajib melakukan aktualisasi kader yang mengedepankan kemampuan dalam peningkatan sumber daya manusia dengan penguasaan teknologi informasi dan jiwa kewirausahaan dengan tidak melupakan integritas nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Jika HMI ingin bertahan dalam pengawalan kemajuan bangsa, maka HMI harus didukung oleh kemampuan para kadernya dalam menguasai kompetensi teknologi dan non-teknologi, jiwa enterpreneurship, etos kerja yang unggul dan akhlak mulia yang bernafaskan Islam. Era revolusi industri dan paradigma yang terbangun masa kini sangat berpengaruh dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti pendidikan, gaya hidup, kesehatan, dan tentunya dunia bisnis itu sendiri.

Dalam era yang terus berkembang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memerlukan strategi perkaderan yang adaptif untuk tetap relevan dan efektif. Berikut beberapa langkah strategis yang dapat diambil:

1. Pemanfaatan Teknologi Digital

Untuk menghasilkan muslim intelegensia, HMI yang berstatus sebagai organisasi mahasiswa perlu menyelaraskan perkembangan transformasi teknologi digital dengan peran dan fungsi HMI sebagai organisasi perjuangan dan organisasi kader.

Sebagai organisasi mahasiswa, HMI harus memiliki kader yang berwawasan luas dan berorientasi maju disertai pemikiran yang cerdas serta segar. Sebagai organisasi kader, HMI harus belajar dan berlatih dengan kemampuan yang dimiliki untuk mempersiapkan calon kader menjadi anggota yang kemudian dipersiapkan sebagai calon pemimpin umat juga pemimpin bangsa untuk kepentingan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT, dengan memanfaatkan teknologi digital seperti menggunakan sosial media sebagai media pembelajaran, alat komunikasi, bahkan platform dalam penyampaian materi perkaderan.

2. Pendekatan Kolaboratif dan Inklusif

Pendekatan kolaboratif memudahkan para kader untuk bekerja bersama, saling menyumbangkan pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian tujuan secara organisasi maupun individu. Pendekatan kolaboratif dalam konteks ini tidak hanya berlaku untuk para kader HMI saja, tetapi juga para alumni HMI. Diharapkan para alumni mampu memberikan kontribusi terbaiknya untuk keberlanjutan perkaderan HMI melalui pengalaman-pengalaman terbaik sehingga menumbuhkan jiwa militansi para kader HMI tersebut.

Pendekatan inklusif adalah pendekatan yang bertujuan untuk membangun lingkungan yang terbuka dan ramah bagi semua orang, tanpa memandang perbedaan latar belakang, kondisi, atau karakteristik.

Sejak 1947 HMI melihat Islam sebagai realitas keindonesiaan dan dimaktubkan dalam bahasa Konstitusi Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) HMI. Keberagamaan HMI yang menjiwai keislaman dan keindonesiaan yang tertulis dalam konstitusinya adalah pengakomodiran terhadap semua paham keislaman yang ada, dalam kesatuan ke-Tuhanan dan kemanusiaan tanpa mengucilkan paham dan agama yang lain.

Dari sifat-sifat tersebut dapat dikatakan bahwa sikap keberagamaan HMI sebagai sikap keberagamaan yang terbuka merupakan satu kesatuan yang ada dalam sikap keberagamaan HMI sebagai etika hidup bersama serta saling memperkaya tanpa menghilangkan keunikan identitas yang dimilikinya.

Keberagamaan HMI adalah bentuk persatuan, kerjasama dalam kebersamaan di antara sesama umat Islam (Ukhuwah Islamiyah) maupun sesama umat beragama (Ukhuwah Insaniyah) dalam bangunan keindonesiaan dan merupakan wujud spiritualitas HMI dalam keragaman yang ada. Karena buat HMI kepluralan dan kemajemukan pemikiran, agama, dan budaya adalah khazanah dan kekayaan etika dan moral bersama.

Sikap terbuka (inklusif) yang tampak dari sikap HMI adalah upaya penghargaan terhadap kesetaraan dan kemajemukan yang ada. Keberagamaan sebagai pengakuan terhadap keberagaman bangsa yang sangat majemuk adalah upaya mengatasi berbagai persoalan yang dialami secara bersama dalam semangat toleransi.

Keberagamaaan keorganisasian HMI adalah refleksi sadar dari kader dan anggota HMI dalam keber-Tuhanan dan kemanusiaan, upaya membangun masyarakat cita yang diridhoi Allah SWT.

3. Penguatan Identitas HMI

Penguatan identitas HMI adalah upaya untuk memperkuat pemahaman, penghayatan, dan penerapan nilai-nilai, visi, dan misi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di dalam diri setiap kader. Hal ini bertujuan agar kader tidak hanya memahami organisasi secara administratif, tetapi juga memiliki komitmen ideologis yang kuat dan mampu mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Elemen Penguatan Identitas HMI:

a. Pemahaman Visi dan Misi HMI
Kader memahami tujuan besar HMI: menciptakan insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab terhadap terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

b. Internalisasi Nilai Dasar Perjuangan (NDP)
Kader mempelajari dan mengimplementasikan NDP, yang menjadi pedoman ideologis HMI dalam bersikap dan bertindak.

c. Kebanggaan sebagai Bagian dari HMI
Menanamkan rasa bangga menjadi kader HMI dengan mengenalkan sejarah panjang kontribusi HMI dalam perjuangan bangsa dan umat Islam. Meningkatkan kesadaran bahwa kader adalah bagian dari perubahan besar yang diupayakan HMI.

d. Peningkatan Kapasitas Kader
Mengasah kemampuan intelektual, spiritual, dan sosial kader sehingga mampu menjadi teladan dan agen perubahan (agent of change) di masyarakat.

Tidak ada komentar

Tinggalkan komentar