Sesungguhnya Allah telah mewahyukan Islam sebagai ajaran yang hak dan
sempurna untuk mengatur kehidupan umat manusia sesuai dengan fitrahnya
sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia dituntut
memanifestasikan nilai-nilai ilahiyah di bumi dengan kewajiban mengabdikan diri
semata-mata kepada-Nya, sehingga melahirkan spirit tauhid sebagai persaksian
(syahadah) untuk melakukan pembebasan (liberation) dari belenggu-belenggu
selain Allah. Dalam konteks ini, seluruh penindasan atas kemanusiaan adalah
thagut yang harus dilawan. Inilah yang menjadi subtansi dari pesaksian primordial
manusia yang termaktub dalam syahadatain.
Dalam melaksanakan peran sebagai khalifah, manusia harus berikhtiar
melakukan perubahan sesuai dengan misi yang diemban oleh para Nabi, yaitu
menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ’alamin). Rahmat
bagi seluruh alam menurut Islam adalah terbentuknya masyarakat yang menjunjung
tinggi semangat persaudaraan universal (universal brotherhood), egaliter,
demokratis, berkeadilan sosial (social justice), berakhlakul karimah, istiqomah
melakukan perjuangan untuk membebaskan kaum tertindas (mustadh’afin), serta
mampu mengelola dan menjaga keseimbangan alam.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi kader diharapkan
mampu menjadi alat perjuangan dalam mentransformasikan gagasan dan aksi
terhadap rumusan cita yang ingin dibangun yakni terbinanya insan akademis,
pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas
terwujudnya masyarakat adil makmur yang dirindhoi Allah SWT.
HMI sebagai organisasi kader memiliki platform yang jelas dalam
menyusun agenda dengan mendekatkan diri kepada realitas masyarakat dan secara
konsisten membangun proses dialetika secara obyektif dalam pencapaian
tujuannya. Daya sorot HMI terhadap persoalan akan tergambar pada penyikapan
kader yang memiliki keberpihakan terhadap kaum tertindas (mustadha’afin) dan
memperjuangkan kepentingan mereka serta membekalinya dengan ideologi yang
kuat untuk melawan kaum penindas (mustakbirin).
Untuk dapat mewujudkan cita-cita revolusi di atas, maka seyogyanya
perkaderan harus diorientasikan kepada proses rekayasa pembentukan kader yang
memiliki karakter, nilai dan kemampuan untuk melakukan transformasi
kepribadian dan kepemimpinan seorang muslim yang utuh (kaffah), sikap dan
wawasan intelektual yang melahirkan kritisisme, serta orientasi kepada
kemandirian dan profesionalisme. Oleh karena itu, untuk menguatkan dan
memberikan nilai optimal bagi pengkaderan HMI, maka ada tiga hal yang harus
diberi perhatian serius. Pertama, rekruitmen calon kader. Dalam hal ini, HMI harus
menentukan prioritas rekruitmen calon kader dari mahasiswa pilihan, yakni input
kader yang memiliki integritas pribadi, bersedia melakukan
peningkatan dan pengembangan diri secara berkelanjutan, memiliki orientasi
kepada prestasi yang tinggi dan potensi leadership, serta memiliki komitmen untuk
aktif dalam memajukan organisasi. Kedua, proses perkaderan yang dilakukan
sangat ditentukan oleh kualitas pengurus sebagai penanggung jawab perkaderan,
pengelola latihan, pedoman perkaderan dan bahan yang dikomunikasikan serta
fasilitas yang digunakan. Ketiga, iklim dan suasana yang dibangun harus kondusif
untuk perkembangan kualitas kader, yakni iklim yang menghargai prestasi
individu, mendorong semangat belajar dan bekerja keras, menciptakan ruang dialog
dan interaksi individu secara demokratis dan terbuka untuk membangun sikap kritis
yang melahirkan pandangan futuristik serta menciptakan media untuk merangsang
kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Untuk memberikan panduan (guidance) yang dipedomani dalam setiap
proses perkaderan HMI, maka dipandang perlu untuk menyusun pedoman
perkaderan yang menjadi strategi besar (grand strategy) perjuangan HMI sebagai
organisasi perkaderan dan perjuangan dalam menjawab tantangan zaman.
Dunia telah menunjukkan wajah perubahannya, wajah dunia masa kini
sangat jauh berbeda saat HMI lahir. Begitupun dengan tantangan kader era Revolusi
Industri 5.0 saat ini dan dulu jauh berbeda. Mampukah HMI berperan? Bagaimana
HMI menjalankan peran itu? Dimana muara HMI nantinya? Pertanyaan seperti itu
akan terus bertambah seiring dengan munculnya keraguan dan harapan bangsa
terhadap kader HMI. Harus diakui, manusia saat ini begitu akrab dan semakin mahir
dengan teknologi, sebagaimana tuntutan global dalam revolusi industri 5.0 nya
yang berbasis pada teknologi dan data. Suatu negara dapat dinobatkan sebagai
negara maju apabila kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologinya yang
mendukung agar bisa berpacu dan memiliki daya saing dengan negara lainnya.
Selain metode peningkatan dan perbaikan diaspek perkaderan, kader HMI masa
kini juga harus memiliki jiwa enterpreneur dan kewirausahaan, sehingga kader HMI
dapat berkontribusi pada kemajuan bangsa dan kesejahteraan umat manusia ketika
menjadi pengusaha dan pelaku industri muslim. Atas dasar itu, HMI wajib
melakukan aktualisasi kader yang mengedepankan kemampuan dalam peningkatan
sumer daya manusia dengan penguasaan teknologi informasi dan jiwa
kewirausahaan dengan tidak melupakan integritas nilai-nilai keislaman dan
kebangsaan. Jika HMI ingin bertahan dalam pengawalan kemajuan bangsa, maka
HMI harus didukung oleh kemampuan para kadernya dalam menguasai kompetensi
teknologi dan non-teknologi, jiwa enterpreneurship, etos kerja yang unggul dan
akhlak mulia yang bernafaskan islam. Era revolusi industri dan paradigma yang
terbangun masa kini sangat berpengaruh dalam berbagai kegiatan masyarakat
seperti pendidikan, gaya hidup, kesehatan dan tentunya dunia bisnis itu sendiri.
Dalam era yang terus berkembang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
memerlukan strategi perkaderan yang adaptif untuk tetap relevan dan efektif.
Berikut beberapa langkah strategis yang dapat diambil:
Berhimpun di organisasi HMI adalah sebuah kehormatan, sebuah kebanggan yang tidak semua orang dapat menjadi dari bagiannya. Kita sebagai mahasiswa, sebagai agen perubahan, sebagi generasi penerus bangsa harus mampu membawa cahaya, menjadi suara kebenaran di tengah manusia-manusia yang haus dengan kepentingan. Tatkala kita mengucapkan ikrar sebagai kader HMI sebenarnya kita sedang menegaskan komitmen untuk menjadi manusia yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Sebagimana komitmen perjuangan HMI yakni komitmen keislaman dan keindonesiaan.
Melalui jalan sunyi penuh perjuangan, HMI terekam dalam punggung sejarah bangsa ini bahwa organisasi HMI bukanlah sekedar wadah berkumpul para mahasiswa muslim tetapi HMI merupakan kekuatan moral yang turut membentuk peradaban Indonesia. Kebanggaan menjadi kader HMI akan menguat ketika kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari warisan yang mulia ini.
Dalam setiap langkah perjuangan, HMI telah menjadi rumah spiritual yang membesarkan jiwa-jiwa pemimpin masa depan dengan nilai-nilai Islam yang menjadi ruh organisasi ini akan mengajarkan kita untuk selalu menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Setiap perkaderan yang kita lalui adalah proses transformasi diri untuk terus tumbuh dari akar nilai-nilai luhur yang telah tertanam sejak organisasi ini berdiri.
Mari kita jaga kesucian mata air perkaderan ini hilangkan tangan-tangan kotor yang mencampurinya dan jadilah kader yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab.
Menjadi bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar status, melainkan komitmen untuk tumbuh, berkontribusi, dan mengabdi. Sebagai kader HMI, saya bangga karena:
HMI adalah organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia, lahir dari semangat kemerdekaan dan keislaman yang progresif. Menjadi kader HMI berarti meneruskan estafet perjuangan para pendiri, seperti Lafran Pane dan Nurcholish Madjid, yang berperan besar dalam sejarah bangsa.
HMI mengajarkan saya kepemimpinan, keilmuan, dan integritas melalui:
Sebagai kader, saya diberi ruang untuk:
HMI mengajarkan saya untuk mencintai Indonesia tanpa meninggalkan identitas keislaman. Saya bangga menjadi Muslim yang moderat, inklusif, dan berdaya saing, sesuai trilogi HMI: Islam, Keindonesiaan, dan Keilmuan.
HMI bukan sekadar organisasi, tapi keluarga. Di sini saya menemukan saudara seperjuangan yang siap mendukung dalam kondisi apa pun—baik saat suka maupun duka.
“HMI adalah tempat di mana iman, ilmu, dan amal bersatu. Di sini, saya tidak hanya belajar menjadi pemimpin, tapi juga hamba Allah yang bermanfaat untuk sesama. Itulah mengapa saya selalu bangga menjadi kader HMI!”
