Ungkapan Kader

RAUDATUL JANNAH [ketua umum kohati HMI tanjab barat 2025-2026] - /


Sesungguhnya Allah telah mewahyukan Islam sebagai ajaran yang hak dan
sempurna untuk mengatur kehidupan umat manusia sesuai dengan fitrahnya
sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia dituntut
memanifestasikan nilai-nilai ilahiyah di bumi dengan kewajiban mengabdikan diri
semata-mata kepada-Nya, sehingga melahirkan spirit tauhid sebagai persaksian
(syahadah) untuk melakukan pembebasan (liberation) dari belenggu-belenggu
selain Allah. Dalam konteks ini, seluruh penindasan atas kemanusiaan adalah
thagut yang harus dilawan. Inilah yang menjadi subtansi dari pesaksian primordial
manusia yang termaktub dalam syahadatain.
Dalam melaksanakan peran sebagai khalifah, manusia harus berikhtiar
melakukan perubahan sesuai dengan misi yang diemban oleh para Nabi, yaitu
menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ’alamin). Rahmat
bagi seluruh alam menurut Islam adalah terbentuknya masyarakat yang menjunjung
tinggi semangat persaudaraan universal (universal brotherhood), egaliter,
demokratis, berkeadilan sosial (social justice), berakhlakul karimah, istiqomah
melakukan perjuangan untuk membebaskan kaum tertindas (mustadh’afin), serta
mampu mengelola dan menjaga keseimbangan alam.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi kader diharapkan
mampu menjadi alat perjuangan dalam mentransformasikan gagasan dan aksi
terhadap rumusan cita yang ingin dibangun yakni terbinanya insan akademis,
pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas
terwujudnya masyarakat adil makmur yang dirindhoi Allah SWT.
HMI sebagai organisasi kader memiliki platform yang jelas dalam
menyusun agenda dengan mendekatkan diri kepada realitas masyarakat dan secara
konsisten membangun proses dialetika secara obyektif dalam pencapaian
tujuannya. Daya sorot HMI terhadap persoalan akan tergambar pada penyikapan
kader yang memiliki keberpihakan terhadap kaum tertindas (mustadha’afin) dan
memperjuangkan kepentingan mereka serta membekalinya dengan ideologi yang
kuat untuk melawan kaum penindas (mustakbirin).
Untuk dapat mewujudkan cita-cita revolusi di atas, maka seyogyanya
perkaderan harus diorientasikan kepada proses rekayasa pembentukan kader yang
memiliki karakter, nilai dan kemampuan untuk melakukan transformasi
kepribadian dan kepemimpinan seorang muslim yang utuh (kaffah), sikap dan
wawasan intelektual yang melahirkan kritisisme, serta orientasi kepada
kemandirian dan profesionalisme. Oleh karena itu, untuk menguatkan dan
memberikan nilai optimal bagi pengkaderan HMI, maka ada tiga hal yang harus
diberi perhatian serius. Pertama, rekruitmen calon kader. Dalam hal ini, HMI harus
menentukan prioritas rekruitmen calon kader dari mahasiswa pilihan, yakni input
kader yang memiliki integritas pribadi, bersedia melakukan
peningkatan dan pengembangan diri secara berkelanjutan, memiliki orientasi
kepada prestasi yang tinggi dan potensi leadership, serta memiliki komitmen untuk
aktif dalam memajukan organisasi. Kedua, proses perkaderan yang dilakukan
sangat ditentukan oleh kualitas pengurus sebagai penanggung jawab perkaderan,
pengelola latihan, pedoman perkaderan dan bahan yang dikomunikasikan serta
fasilitas yang digunakan. Ketiga, iklim dan suasana yang dibangun harus kondusif
untuk perkembangan kualitas kader, yakni iklim yang menghargai prestasi
individu, mendorong semangat belajar dan bekerja keras, menciptakan ruang dialog
dan interaksi individu secara demokratis dan terbuka untuk membangun sikap kritis
yang melahirkan pandangan futuristik serta menciptakan media untuk merangsang
kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Untuk memberikan panduan (guidance) yang dipedomani dalam setiap
proses perkaderan HMI, maka dipandang perlu untuk menyusun pedoman
perkaderan yang menjadi strategi besar (grand strategy) perjuangan HMI sebagai
organisasi perkaderan dan perjuangan dalam menjawab tantangan zaman.
Dunia telah menunjukkan wajah perubahannya, wajah dunia masa kini
sangat jauh berbeda saat HMI lahir. Begitupun dengan tantangan kader era Revolusi
Industri 5.0 saat ini dan dulu jauh berbeda. Mampukah HMI berperan? Bagaimana
HMI menjalankan peran itu? Dimana muara HMI nantinya? Pertanyaan seperti itu
akan terus bertambah seiring dengan munculnya keraguan dan harapan bangsa
terhadap kader HMI. Harus diakui, manusia saat ini begitu akrab dan semakin mahir
dengan teknologi, sebagaimana tuntutan global dalam revolusi industri 5.0 nya
yang berbasis pada teknologi dan data. Suatu negara dapat dinobatkan sebagai
negara maju apabila kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologinya yang
mendukung agar bisa berpacu dan memiliki daya saing dengan negara lainnya.
Selain metode peningkatan dan perbaikan diaspek perkaderan, kader HMI masa
kini juga harus memiliki jiwa enterpreneur dan kewirausahaan, sehingga kader HMI
dapat berkontribusi pada kemajuan bangsa dan kesejahteraan umat manusia ketika
menjadi pengusaha dan pelaku industri muslim. Atas dasar itu, HMI wajib
melakukan aktualisasi kader yang mengedepankan kemampuan dalam peningkatan
sumer daya manusia dengan penguasaan teknologi informasi dan jiwa
kewirausahaan dengan tidak melupakan integritas nilai-nilai keislaman dan
kebangsaan. Jika HMI ingin bertahan dalam pengawalan kemajuan bangsa, maka
HMI harus didukung oleh kemampuan para kadernya dalam menguasai kompetensi
teknologi dan non-teknologi, jiwa enterpreneurship, etos kerja yang unggul dan
akhlak mulia yang bernafaskan islam. Era revolusi industri dan paradigma yang
terbangun masa kini sangat berpengaruh dalam berbagai kegiatan masyarakat
seperti pendidikan, gaya hidup, kesehatan dan tentunya dunia bisnis itu sendiri.
Dalam era yang terus berkembang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
memerlukan strategi perkaderan yang adaptif untuk tetap relevan dan efektif.
Berikut beberapa langkah strategis yang dapat diambil:

  1. Pemanfaatan Teknologi Digital
    Untuk menghasilkan muslim intelegensia, HMI yang berstatus sebagai
    organisasi mahasiswa perlu menyelaraskan perkembangan transformasi
    teknologi digital dengan peran dan fungsi HMI sebagai organisasi perjuangan
    dan organisasi kader. Sebagai organisasi mahasiswa, HMI harus memiliki kader
    yang berwawasan luas dan berorientasi maju disertai pemikiran yang cerdas
    serta segar. Sebagai organisasi kader HMI harus belajar dan berlatih dengan
    kemampuan yang dimiliki untuk mempersiapkan calon kader menjadi anggota
    yang kemudian dipersiapkan sebagai calon pemimpin umat juga pemimpin
    bangsa untuk kepentingan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT
    dengan memanfaatkan teknologi digital seperti menggunakan sosiam media
    sebagai media pembelajaran, alat komunikasi bahkan platform dalam
    penyampaian materi perkaderan.
  2. Pendekatan Kolaboratif dan Inklusif
    Pendekatan kolaboratif memudahkan para kader untuk bekerja bersama,
    saling menyumbangkan pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian
    tujuan secara organisasi maupun individu. Pendekatan kolaboratif dalam
    konteks ini tidak hanya berlaku untuk para kader HMI saja, tetapi juga para
    alumni HMI. Diharapkan para alumni mampu memberikan konstribusi
    terbaiknya untuk keberlanjutan perkaderan HMI melalui pengalaman-
    pengalaman terbaik sehingga menumbuhkan jiwa militansi para diri kader HMI
    tersebut.
    Pendekatan inklusif adalah pendekatan yang bertujuan untuk membangun
    lingkungan yang terbuka dan ramah bagi semua orang, tanpa memandang
    perbedaan latar belakang, kondisi, atau karakteristik. Sejak 1947 HMI melihat
    Islam sebagai realitas keindonesiaan dan di maktubkan dalam bahasa Konstitusi
    Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) HMI.
    Keberagamaan HMI yang menjiwai keislaman dan keindonesiaan yang tertulis
    dalam kostitusinya adalah pengakomodiran terhadap semua paham keislaman
    yang ada, dalam kesatuan ke-Tuhan-an dan kemanusiaan tanpa mengucilkan
    paham dan agama yang lain.
    Dari sifat-sifat tersebut dapat dikatakan bahwa sikap keberagamaan HMI
    sebagai sikap keberagamaan yang terbuka merupakan satu kesatuan yang ada
    dalam sikap keberagamaan HMI sebagai etika hidup bersama serta saling
    memperkaya tanpa menghilangkan keunikan identitas yang
    dimilikinya.Keberagamaan HMI adalah bentuk persatuan, kerjasama dalam
    kebersamaan di antara sesama umat Islam (UkhuwahIslamiyah) maupun sesama
    ummat beragama (Ukhuwah Insaniyah) dalam bangunan keindonesiaan dan
    merupakan wujud spritualitas HMI dalam keragaman yang ada karena buat HMI
    Kepluralan dan kemajemukan pemikiran, agama dan budaya adalah khasanah
    dan kekayaan etika dan moral bersama. Sikap terbuka (inklusif) yang tampak
    dari sikap HMI adalah upaya penghargaan terhadap kesetaraan dan
    kemajemukan yang ada. Keberagamaan sebagai pengakuan terhadap
    keberagaman bangsa yang sangat majemuk upaya mengatasi berbagai persoalan
    yang di alami secara bersama dalam semangat toleransi. Keberagamaaan
    keorganisasian HMI adalah refleksi sadar dari kader dan anggota HMI dalam
    keber-Tuhan-an dan kemanusiaan upaya membangun masyarakat cita yang di
    ridhoi Allah SWT.
  3. Penguatan Identitas HMI
    Penguatan identitas HMI adalah upaya untuk memperkuat pemahaman,
    penghayatan, dan penerapan nilai-nilai, visi, dan misi Himpunan Mahasiswa
    Islam (HMI) di dalam diri setiap kader. Hal ini bertujuan agar kader tidak hanya
    memahami organisasi secara administratif, tetapi juga memiliki komitmen
    ideologis yang kuat dan mampu mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam
    kehidupan sehari-hari.
    Elemen Penguatan Identitas HMI:
    a. Pemahaman Visi dan Misi HMI
    Kader memahami tujuan besar HMI: menciptakan insan akademis,
    pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab
    terhadap terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
    b. c. Internalisasi Nilai Dasar Perjuangan (NDP)
    Kader mempelajari dan mengimplementasikan NDP, yang menjadi
    pedoman ideologis HMI dalam bersikap dan bertindak.
    Kebanggaan sebagai Bagian dari HMI
    Menanamkan rasa bangga menjadi kader HMI dengan mengenalkan sejarah
    panjang kontribusi HMI dalam perjuangan bangsa dan umat Islam.
    Meningkatkan kesadaran bahwa kader adalah bagian dari perubahan besar
    yang diupayakan HMI.
    d. Peningkatan Kapasitas Kader
    Mengasah kemampuan intelektual, spiritual, dan sosial kader sehingga
    mampu menjadi teladan dan agen perubahan (agent of change) di
    masyarakat.
MAHDALENA - Kabid Kajian dan advokasi kohati (BADKO JAMBI) / Tanjung jabung barat

Berhimpun di organisasi HMI adalah sebuah kehormatan, sebuah kebanggan yang tidak semua orang dapat menjadi dari bagiannya. Kita sebagai mahasiswa, sebagai agen perubahan, sebagi generasi penerus bangsa harus mampu membawa cahaya, menjadi suara kebenaran di tengah manusia-manusia yang haus dengan kepentingan. Tatkala kita mengucapkan ikrar sebagai kader HMI sebenarnya kita sedang menegaskan komitmen untuk menjadi manusia yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Sebagimana komitmen perjuangan HMI yakni komitmen keislaman dan keindonesiaan.

Melalui jalan sunyi penuh perjuangan, HMI terekam dalam punggung sejarah bangsa ini bahwa organisasi HMI bukanlah sekedar wadah berkumpul para mahasiswa muslim tetapi HMI merupakan kekuatan moral yang turut membentuk peradaban Indonesia. Kebanggaan menjadi kader HMI akan menguat ketika kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari warisan yang mulia ini.

Dalam setiap langkah perjuangan, HMI telah menjadi rumah spiritual yang membesarkan jiwa-jiwa pemimpin masa depan dengan nilai-nilai Islam yang menjadi ruh organisasi ini akan mengajarkan kita untuk selalu menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Setiap perkaderan yang kita lalui adalah proses transformasi diri untuk terus tumbuh dari akar nilai-nilai luhur yang telah tertanam sejak organisasi ini berdiri.

Mari kita jaga kesucian mata air perkaderan ini hilangkan tangan-tangan kotor yang mencampurinya dan jadilah kader yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab.

M. RAFI - Ketua Umum HMI Cabang Tanjab Barat Tahun 2025 / Kuala Tungkal

Menjadi bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar status, melainkan komitmen untuk tumbuh, berkontribusi, dan mengabdi. Sebagai kader HMI, saya bangga karena:

1. Warisan Perjuangan yang Mulia

HMI adalah organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia, lahir dari semangat kemerdekaan dan keislaman yang progresif. Menjadi kader HMI berarti meneruskan estafet perjuangan para pendiri, seperti Lafran Pane dan Nurcholish Madjid, yang berperan besar dalam sejarah bangsa.

2. Proses Kaderisasi yang Membentuk Karakter

HMI mengajarkan saya kepemimpinan, keilmuan, dan integritas melalui:

  • Pelatihan intensif (LK I & LK II) yang mengasah kemampuan analitis dan spiritual.
  • Nilai “Tafaqquh Fiddin” (mendalami agama) dan “Fastabiqul Khairat” (berlomba dalam kebaikan).
  • Lingkungan diskusi yang kritis namun penuh ukhuwah.

3. Wadah Aksi Nyata untuk Umat dan Bangsa

Sebagai kader, saya diberi ruang untuk:

  • Berkontribusi pada masyarakat melalui pengabdian, advokasi, dan pendidikan.
  • Menjadi bagian dari solusi atas isu-isu strategis bangsa.
  • Membangun jaringan dengan kader-kader terbaik dari berbagai bidang.

4. Identitas yang Menyatukan Islam dan Kebangsaan

HMI mengajarkan saya untuk mencintai Indonesia tanpa meninggalkan identitas keislaman. Saya bangga menjadi Muslim yang moderat, inklusif, dan berdaya saing, sesuai trilogi HMI: Islam, Keindonesiaan, dan Keilmuan.

5. Keluarga Seumur Hidup

HMI bukan sekadar organisasi, tapi keluarga. Di sini saya menemukan saudara seperjuangan yang siap mendukung dalam kondisi apa pun—baik saat suka maupun duka.


“HMI adalah tempat di mana iman, ilmu, dan amal bersatu. Di sini, saya tidak hanya belajar menjadi pemimpin, tapi juga hamba Allah yang bermanfaat untuk sesama. Itulah mengapa saya selalu bangga menjadi kader HMI!”