“Dari Dinamika ke Disintegrasi: Potret Krisis di Tubuh Kader HMI”

19
Apr 2026
Penerbit: Admin Infokom
Dilihat :13x

Disintegrasi kader di tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan lagi sekadar isu, melainkan fenomena yang mulai terasa nyata di berbagai cabang. Relasi antar kader yang seharusnya dibangun atas dasar intelektualitas dan nilai perjuangan, kini di banyak tempat justru diwarnai oleh konflik personal, ego sektoral, dan komunikasi yang tidak sehat.

Pertanyaannya: apakah ini sekadar dinamika organisasi, atau justru tanda kemunduran serius?


Secara faktual, gejala disintegrasi terlihat dari pola interaksi kader yang semakin menjauh dari tradisi intelektual. Forum-forum diskusi kehilangan substansi, digantikan oleh saling sindir dan manuver tidak langsung.

Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi kekuatan justru berubah menjadi sumber permusuhan. Bahkan dalam beberapa kasus, kader lebih berani menyerang internal dibanding memperjuangkan isu eksternal. Ini bukan lagi dinamika,ini gejala degradasi.


Jika dianalisis melalui teori konflik dari Karl Marx, kondisi ini mencerminkan pertarungan kepentingan yang tidak terkelola. Namun, konflik dalam organisasi kader seharusnya bersifat produktif,melahirkan gagasan, bukan perpecahan.Sementara itu, Émile Durkheim menegaskan bahwa melemahnya nilai bersama akan meruntuhkan solidaritas. Dalam konteks HMI, ini berarti satu hal: nilai dasar organisasi tidak lagi benar-benar hidup dalam diri kader.
Masalah utamanya bukan pada konflik, melainkan pada kegagalan mengelolanya. Kader kehilangan ruang dialog yang jujur, digantikan dengan budaya sindiran dan pengelompokan.

Lebih jauh, kepemimpinan di beberapa cabang cenderung tidak hadir sebagai pemersatu, melainkan justru menjadi bagian dari konflik itu sendiri. Ketika pemimpin gagal menjadi penengah, maka organisasi kehilangan arah.
Ada pula persoalan yang lebih mendasar: krisis intelektual. Kaderisasi yang seharusnya menjadi jantung organisasi, dalam praktiknya sering terjebak pada formalitas. Nilai-nilai seperti intelektualitas, integritas, dan keberpihakan hanya berhenti pada slogan, tidak terinternalisasi dalam perilaku kader. Akibatnya, organisasi diisi oleh individu yang aktif secara struktural, tetapi lemah secara substansi.


Secara rasional, kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Jika dibiarkan, HMI bukan hanya akan kehilangan soliditas internal, tetapi juga kehilangan relevansi di ruang publik. Organisasi yang sibuk berkonflik di dalam tidak akan mampu menjawab tantangan di luar. Lebih parah lagi, HMI berisiko kehilangan identitasnya sebagai organisasi kader yang melahirkan pemikir dan pejuang.


Namun, di tengah situasi ini, masih ada ruang harapan. Disintegrasi bisa menjadi titik balik,jika direspons dengan kesadaran kolektif. Kader harus kembali berani membuka ruang dialog yang sehat, bukan sekadar saling menyerang. Kepemimpinan harus ditegakkan atas dasar keadilan, bukan kepentingan kelompok. Dan yang paling penting, kaderisasi harus dikembalikan pada esensinya: membentuk manusia berpikir, bukan sekadar pengisi struktur.


Kesimpulannya, disintegrasi kader HMI adalah alarm keras. Ia menandakan adanya krisis nilai, krisis intelektual, dan krisis kepemimpinan. Pertanyaannya bukan lagi apakah ini terjadi, tetapi apakah kader HMI cukup jujur untuk mengakuinya,dan cukup berani untuk memperbaikinya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan komentar