“Senioritas, Kekuasaan, dan Pengkhianatan terhadap Nilai NDP “

Apakah NDP HMI masih relevan bagi kita, kader HMI hari ini?
Sebagian besar kader akan menjawab: iya. Karena NDP bukan sekadar dokumen ideologis, melainkan kompas nilai,tentang keadilan, kejujuran intelektual, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun pertanyaannya menjadi lebih serius ketika relevansi itu diuji bukan pada kader, melainkan pada para senior dan alumni yang kini berada di sekitar lingkar kekuasaan.
Di titik ini, kita melihat paradoks. NDP menegaskan bahwa kekuasaan harus dikritik, bukan dipuja. Etika bernegara harus dijaga, bukan dinegosiasikan.
Tetapi faktanya, ada sebagian alumni yang justru larut dalam logika kekuasaan: membenarkan yang salah, membungkam kritik, bahkan menempatkan loyalitas pada satu figur di atas prinsip kebenaran.
Ketika itu terjadi, NDP seolah hanya diwariskan kepada kader sebagai hafalan, bukan sebagai tuntunan praksis bagi mereka yang telah matang secara usia dan posisi.
Lebih problematis lagi, sikap tersebut sering dibungkus dengan klaim jasa masa lalu.
Seolah kontribusi historis memberi legitimasi moral untuk membungkam perbedaan hari ini.
Padahal dalam idealisme HMI, jasa bukan alat tawar kekuasaan, melainkan amanah untuk menjaga nilai.
Senioritas bukan alasan untuk kebal kritik, justru menjadi tanggung jawab etis untuk memberi teladan.
Jika NDP hanya tegas ke bawah namun lentur ke atas, maka yang kehilangan relevansi bukan NDP-nya, melainkan keberanian kita untuk konsisten.
Sebab NDP tidak pernah mengajarkan keberpihakan buta pada kekuasaan, melainkan keberanian berpihak pada kebenaran,siapapun yang sedang berkuasa.
Maka pertanyaan akhirnya bukan lagi: apakah NDP masih relevan?Tetapi: siapa yang benar-benar bersedia hidup di bawah nilai NDP, dan siapa yang hanya menggunakannya saat menguntungkan dirinya sendiri?






Tinggalkan komentar