61 TAHUN TANJUNG JABUNG BARAT: KAYA SUMBER DAYA, TAPI DI MANA NILAI TAMBAHNYA

Oleh: M. Rafi Ketua Umum HMI Cabang Tanjung Jabung Barat
Di usia ke-61 Kabupaten Tanjung Jabung Barat, kita patut mengapresiasi berbagai capaian pembangunan. Namun, HUT daerah juga harus menjadi momentum untuk mengevaluasi apa yang masih menjadi persoalan.
Salah satunya adalah harga kelapa yang anjlok. Di daerah yang kelapanya melimpah dan banyak masyarakat menggantungkan hidup dari perkebunan kelapa, muncul sebuah ironi:“Mengapa harga satu buah kelapa bisa lebih murah daripada uang parkir?”
Ini bukan sekadar persoalan harga. Ini adalah pertanyaan tentang rantai ekonomi dan arah pembangunan daerah.
Tanjab Barat memiliki kelapa, laut, hasil perikanan, perkebunan, serta sumber daya manusia yang besar. Tetapi kalau komoditas kita masih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah dan diolah di luar daerah, maka nilai tambah dan kesempatan ekonominya juga banyak dinikmati di luar.
Dalam teori Value Chain Michael Porter, nilai ekonomi tidak hanya muncul dari produksi, tetapi juga dari pengolahan, distribusi, pemasaran hingga produk sampai kepada konsumen.
Artinya, kita tidak cukup hanya menjadi daerah penghasil kelapa dan ikan. Kita harus menjadi daerah pengolahnya.Pemerintah memang tidak bisa mengendalikan seluruh harga pasar.
Tetapi pemerintah bisa membangun ekosistem agar petani dan nelayan memiliki posisi tawar yang lebih kuat melalui koperasi, industri pengolahan, akses pasar, investasi, teknologi dan penguatan UMKM.
Hal ini juga berkaitan dengan kemandirian ekonomi daerah. Ketika bahan mentah keluar, sementara pengolahan dan perdagangan bernilai tinggi dilakukan di daerah lain, maka banyak aktivitas ekonomi dan lapangan pekerjaan ikut keluar.Maka pertanyaannya bukan hanya:“Berapa PAD yang kita dapat?”
Tetapi:“Berapa besar nilai ekonomi yang berhasil kita ciptakan dan pertahankan di Tanjung Jabung Barat?”
BPS mencatat ekonomi Tanjab Barat pada 2025 tumbuh 5,28 persen. Angka ini tentu patut diapresiasi. Tetapi pertumbuhan ekonomi harus benar-benar dirasakan petani, nelayan, UMKM dan masyarakat kecil. “BPS Tanjung Jabung Barat” https://tanjabbarkab.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/27/218/the-economy-of-west-tanjung-jabung-regency-grew-by-5-28-percent-in-2025.html
Karena itu, di usia ke-61 ini, kita perlu mengubah paradigma:Dari menjual bahan mentah menjadi menciptakan produk.Dari daerah penghasil menjadi daerah pengolah.Dari kaya sumber daya menjadi kaya nilai tambah.
Sebagai HMI, kritik ini bukan untuk menjatuhkan pemerintah, tetapi sebagai bentuk kontrol sosial dan kepedulian terhadap daerah.Sebab Tanjung Jabung Barat sebenarnya tidak kekurangan potensi.
Yang kita pertanyakan adalah bagaimana potensi itu dikelola.Dan ketika petani berkata, “harga kelapa lebih murah daripada uang parkir,”
jangan hanya dianggap sebagai keluhan.Itu adalah alarm bahwa rantai ekonomi daerah harus dibenahi.Selamat HUT ke-61 Tanjung Jabung Barat.Jangan hanya bertambah usia.Mari bertambah nilai tambah, kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan rakyat.





Tinggalkan komentar